Eradikasi Stigmanya Dulu

Dalam sebuah obrolan ringan di lingkungan sosial biasa dan acak, terkadang perbincangan terkait penyakit HIV maupun populasi fokus terselip.

Sering terdengar respon “ihhhhhh udah emang sewajarnya kena, kelakuannya gitu sih” dengan wajah penuh jijik terpasang di wajah orang yang berkomentar.

“Terus kamu mau deket-deketan ama dia, udah lah jauhin saja” wajah kaget dan penuh kebencian tegurat dari wajah orang yang mendengar orang didekatnya terkena HIV.

“Eh lu tahu gak, si ‘anu’ positif HIV, gak nyangka ya. Habisan suka berbuat maksiat. Salah dia juga.” wajah tanpa bersalah seorang petugas kesehatan memberitahukan ke orang lain bahwa orang yang dikenalnya ternyata positif HIV.

Era saat ini seharusnya HIV dinilai dari sudut pandang yang berbeda. HIV sudah berkembang pesat sekali penanganannya meskipun kita belum menuju di titik “sembuh”. Perjuangan penanganan dan upaya penyelesaian permasalahan penyakit ini selalu berada pada upaya yang paling optimal bagi orang-orang yang tergerak hatinya di bidang ini. Tapi yang saat ini terjadi pada kita apa?, kita kembali ke masa penuh penghakiman, penyudutan, pengucilan yang sungguh berpikiran sempit. Pengetahuan semakin maju dan teknologi sangat membantu. Kenapa harus begitu?. Tidak akan rugi sedikit menyisakan ruang hati untuk menghapus buruk sangka, tidak akan menular jika kita hanya sedikit bertutur kata dengan baik terhadap penderita dan populasi fokus dan tidak akan berdosa berbuat baik terhadap sesama.

Tidak ada yang menghalalkan semua, HIV merupakan PR bersama. Stigma hanya akan memperburuk keadaan. Stigma hanya akan menyembunyikan penyakit ini di tempat yang membahayakan. Ketidaktahuan (iceberg situation) adalah ancaman. Kita harus membuka pintu upaya selebar-lebarnya. Banyak yang butuh bantuan kita, teman yang positif membutuhkan bantuan dan dukungan. Mari hapuskan stigmanya dulu!

Sumber Gambar: Google Image; Phsycology Today.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *