“Saya Menyesal, Saya Jijik dengan Diri Saya Sendiri!”

Saya mengenal laki-laki ini dari sebuah aplikasi kencan online. Pertemuan kami diawali dengan perbincangan yang menyenangkan. Saya wanita yang berumur 27 tahun seorang mahasiswa S2 disalah satu universitas yang cukup terkenal. 27 tahun hidup sendiri saya terus bertanya dalam hati kenapa saya masih sendiri. Usia segini seharusnya saya seperti yang lain memiliki pasangan. Pikiran merasa tidak berharga, sering sekali melintas dibenak saya. Apa saya kurang cantik, apa saya tidak berkarakter?. Lantas mengapa saya masih sendiri. Sebanrnya saya sendiripu tahu hal ini lebih karena saya yang tidak ingin mencoba. Saya lansung menghentikan pikiran saya untuk membina hubungan, karena saya merasa belum siap.

Ledakan hasrat seksual ketika melihat laki-laki yang saya sukai menjerit dibenak saya. Saya disini perempuan, tabu bagi budaya saya untuk terlalu jujur jika berkaitan dengan hasrat seksual. Tapi jujur saya juga ingin disentuh oleh laki-laki. Merasa selalu berperang didalam hati saya berniat mencoba untuk membina hubungan dengan memiliki “pacar”. Kebetulan disaat itu tidak ada yang secara terang-terangan tertarik dengan saya. Kemudian saya mendengar dan pernah tahu bahwa dengan berkembangnya teknologi pasanganpun bisa didapatkan secara online. Sayapun mencobanya.

Saya mulai merencanakan pertemuan, sekali dua kali obrolan kami pun saling klik. Tampang nya pun lumayan, tidak jelek dan tidak pula tampan, ya pas saja lah. Saya merasa nyaman dengan pria yang berusia 6 tahun lebih tua dari saya tersebut. Namun kami belum berpacaran hanya tetap terus saling berkenalan. Hingga suatu pertemuan disuatu malam, laki-laki tersebut memulai ajakan untuk berhubungan seksual. Saya tidak kaget, saya merasa apa memang ini saatnya. Saya bergumam dalam hati kalau tidak sekarang kapan lagi. Tanpa berpikir panjang kemudian kami ke kamar kosan abang tersebut dan semua itu terjadi. Setelah selesai saya hanya merasakan perih, dan apa itu tadi? bisik saya dalam hati.

Setelah semua selesai saya merasa bodoh, saya merasa kotor, saya merasa menyesal. Dada saya sesak, saya ingin menjerit tapi ini bukan sebuah paksaan. Saya coba untuk meneruskan obrolan. Abang yang berada di ranjang tersebut mengucapkan “abang HIV positif”. Saya kesulitan mencerna. Saya ingin menamparnya tapi pikiran saya terus berproses. Artinya apa? saya pulang, saya menangis dan tetap terus menangis. Air mata ini sia-sia, saya terus menangis jika perlu sampai air mata ini habis. Saya belum puas mencaci kebodohan dan penyesalan saya. Saya mencoba memberanikan diri bertanya hingga saya disarankan untuk periksa. sejak saat itu tidak ada lagi kata “bahagia” di kamus saya.

Sumber Gambar: Google Image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *